Featured Post
SURAT DARI IWAN UNTUK TUHAN

IWAN adalah seorang preman yang baru insyaf. Ingin berusaha jujur dan ingin mengenal Tuhan. Ketika sedang merintis kehidupan baru yang lu...

Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Juni 2018

Kumbang dan Bunga

Lelaki ibarat kumbang yang dapat terbang dan hinggap di setiap bunga. Dapat bebas berdasarkan kekuatan sayap tanpa terikat kakinya dengan sesuatu.

Wanita ibarat bunga yang terikat dengan dahan dan akar. Walaupun akan menarik hati setiap datangnya kumbang namun memberi sari kenyamanan tidak ke setiap yang datang.

Semakin banyak kumbang yang datang dan hinggap dan kemudian sang bunga memberikan kenyamanan kesetiap mereka maka sesungguhnya sang bunga akan memudarkan dirinya untuk cepat menjadi layu.

Kekuatan bunga berada pada dahan dan akar yaitu kesucian dan kesetiaan sebagai kiasan menanti datangnya satu kumbang yang hinggap dan menandai. Kamu milikku.

Kekuatan sang kumbang adalah untuk tetap terbang kembali kepada sang bunga tanpa adanya letih karena telah terasa manisnya si bunga idaman. Mungkin sesekali dia lewat untuk melihat keindahan bunga yang lain karena takdir kumbang adalah petualang namun dia tetap menuju satu  bunga untuk dihisap karena tidak semua bunga adalah sedap walaupun nampak indah.

Sang waktu akan selalu tetap berjalan dengan menjadikan sang bunga layu namun kesetiaan sang bunga bertahan untuk satu kumbang yang hinggap sampai dia mati dan sang kumbang putus sayap dan mati.

~Akulah kumbang, Bungaku~

Jumat, 01 Juni 2018

Mencari kebahagiaan

Kebahagiaan  adalah  keadaan  hati  yang  mampu  menerima  segala  sesuatu seperti  apa  adanya,  tidak  terpengaruh  oleh  sesuatu. 

Kebahagiaan  sudah  ada setiap  saat,  hanya  untuk  dapat  merasakannya,  segala  macam  pengaruh  harus meninggalkan  batin  kita,  karena  hanya  batin yang  bebas  sajalah,  bebas  dalam arti  kata  seluasnya,  bebas  tidak  terikat  oleh  kesenangan  atau  kesusahan,  tidak terikat  oleh  apapun  juga,  yang  akan  mampu  mengerti  apa  sesungguhnya  yang dinamakan kebahagiaan  itu.

Kebahagiaan  adalah  seperti  sinar  matahari  yang  selalu  ada.  Kalau  tidak nampak,  maka  sudah  pasti  bahwa  ada  yang  menghalangi  atau  menutupi  sinar itu.  Kalau  penghalang  atau  penutupnya  lenyap,  sudah  pasti  cahaya  itu  akan bersinar  dengan  cerahnya dalam  keadaan  gelap  karena  cahaya  itu  terhang, percuma  sajalah  mencari-cari  cahaya  itu,  karena  tidak  mungkin  akan  bertemu.

Dan  segala  macam  penghalang  itu  berada  di  dalam  batin kita  sendiri.

Orang  yang  selalu  ingin  mengejar  kesenangan,  dan  orang  yang  selalu  ingin menghindarkan  kesusahan,  takkan  pernah  dapat  mengenal  apa  sebenarnya kebahagiaan.  Bukan  berarti  bahwa  kita  tidak  boleh  menikmati  kesenangan atau  meninggalkan  keduniawian  lalu  bertapa  di  puncak  gunung.

Menikmati kesenangan  adalah  hak  kita  sebagai  manusia  hidup,  karena  kita  telah  diberi panca  indera  sebagai  alat  untuk  menikmati  kesenangan  dalam  hidup  ini. Namun,  senang  susah  itu  baru  timbul  apabila  ada  perbandingan  dalam  hati.

Kalau  kita  menerima  segala  sesuatu  sebagai  apa  adanya,  sebagai  suatu kewajaran,  maka  tidak  ada  lagi  sebutan  senang  susah  itu,  tidak  tercipta ombak-ombak  senang  susah  yang  saling  bertentangan.

Selamat Ramadhan sayang..

Rabu, 30 Mei 2018

Kebebasan Pikiran


Seperti apa rasanya membebaskan pikiran itu?.

Apakah harus menjadi seorang dewa untuk lepas dari beban pikiran?

ah rasanya sulit, ternyata manusia adalah insan yang lemah bahkan sangat lemah. 

Apa yang digambarkan bahwa ada laki laki super seperti Superman atau gatot kaca atau makhluk yang memiliki otot kawat dan tulang besi beserta rambut duri dan muka asbes. Namun pasti rasa hati sulit untuk dikonotasikan seperti baja, titanium atau berlian sekalipun karena rasa hati adalah hal yang absurb alias sulit sekali dimengerti. 

Bila ada yang dikatakan dia memiliki hati baja, ah belum tentu, kita tidak tahu kalau orang itu tampak tegar disiang hari padahal bisa jadi di waktu malam hari selalu berurai air matanya!.
Coba cek buat kamu yang katanya memiliki hati tegar!.

Boleh percaya atau tidak?. Cobalah tengok diri kita sendiri. Bila kita katakan bahwa hati kita kuat sebenarnya saat itu rasa hati sedang lemah, begitupun bila kita katakan hati kita lemah sebenarnya rasa hati kita saat itu justru sedang kuat kuatnya.

Bila kita buka catatan lembar sejarah maka terbukti bahwa orang orang yang dikatakan hebat sekalipun begitu lemahnya karena urusan rasa hati, salah satunya karena urusan Cinta.

Cinta lagi cinta lagi.. 

Ya gimana, sudah banyak terjadi karena cinta bisa terjadinya perang, karena cinta pula bisa terjadinya damai.

Inilah kehidupan dunia..
Kehidupan yang penuh tipu daya.
Kehidupan fotomorgana.
Tiada keabadian..
Mungkin hari ini ada rasa cinta, esok bisa jadi timbul benci.
Mungkin hari ini ada rasa kebencian yang sangat, esok bisa jadi timbul cinta sepenuh hati.

Kamu pusing?. 😊
Ah sudahlah..

Bila terbaca di aplikasi medsosmu, Apa yang sedang kamu pikirkan?. Maka abaikan saja.
Biarlah hati dan pikiran mengalir apa adanya, yang penting hilangkan rasa dengki dan jangan lupa untuk bersyukur kepada Sang Pencipta hati yang tidak mungkin hati itu kita buat dari strowberi di campur gula dan sedikit garam.

Selamat malam.
Selamat menjalankan ibadah Ramadhan.

Senin, 24 April 2017

Bagaimana Mengatasi Duka dan Permainan pikiran?

Hidup dikuasai oleh pikiran serta perasaan suka dan duka yang merupakan permainan pikiran.  

Jarang sekali kita membuat pikiran dalam keadaan hening tidak terpengaruh akan suka ataupun duka. Pikiran selalu mengejar kesukaan akan tetapi menjauhi kedukaan. Namun, suka dan duka merupakan dua permukaan dari mata uang yang sama, tak terpisahkan. Dimana ada suka di sana pasti ada duka, seperti terang dan gelap, siang dan malam, merupakan pasangan yang membuat kehidupan pikiran menjadi lengkap.

Pikiran seperti air samudra, tak pernah diam, selalu berubah. Oleh karena itu, tidak ada keadaan pikiran yang abadi. Sukapun hanya sementara, demikian pula duka, walaupun biasanya, duka lebih panjang usianya dibandingkan suka. Bahkan suka biasanya berekor duka, walaupun duka belum tentu disambung suka. 

Apa yang hari ini mendatangkan kesukaan, besok sudah berubah mendatangkan kedukaan. Keadaannya tidaklah berubah. Keadaan apa adanya merupakan kenyataan yang tidak berubah. Yang berubah adalah keadaan pikiran kita sehingga karena dasar pemikirannya berubah, maka penilaiannya juga berubah-ubah. Bila hari ini menyenangkan pikiran, besok dapat berubah menjadi menyusahkan.

Kalau nafsu yang memperdaya hati dan akal pikiran sudah mencengkeram kita, maka kita selalu tenggelam, baik dalam suka maupun dalam duka. Dikala suka, kita dapat menjadi mabuk kesenangan dan lupa diri, sebaliknya, di waktu duka kitapun menjadi mabuk kedukaan dan merana. Keduanya merupakan keadaan di mana kita dipermainkan oleh nafsu melalui hati akal pikiran kita.

Bagaimana kita dapat mencari jalan keluar dari lingkaran setan ini? Bagaimana kita dapat terbebas dari nafsu hati dan akal pikiran? Siapa yang bertanya ini? Siapa yang ingin bebas dari nafsu yang menguasai hati dan akal pikiran? Jelas bahwa yang bertanya adalah pikiran juga, pikiran yang sama yang bergelimang nafsu. Melihat bahwa nafsu mendatangkan ketidakbahagiaan, maka pikiran lalu ingin agar bebas dari nafsu.

Bagaimana mungkin nafsu dapat bebas dari dirinya sendiri? Semua usaha yang dilakukan nafsu tentu mengandung pamrih menyenangkan diri sendiri, membebaskan diri dari susah. Dengan usaha ini, berarti kita terjatuh ke dalam lingkaran setan yang sama, atau bahkan lebih kuat!

Kiranya tidak ada jalan lain bagi kita kecuali MENYERAH atau PASRAH.

Pasrah kepada Tuhan, kepada Sang Maha Pencipta, Maha kuasa dan Maha Kasih! Kita ini, berikut hati dan akal pikiran, berikut nafsu-nafsu kita, kita ini seluruhnya diciptakan oleh kekuasaan Tuhan! Maka, tidak ada yang lebih benar dari pada menyerahkan segala-galanya kepada yang mengadakan kita, yang menciptakan kita. Di waktu mengalami suka, kita selalu ingat dan bersyukur kepadaNya sehingga tidak mabuk. Di waktu mengalami duka, kita selalu ingat dan menyerah padaNya sehingga tidak tenggelam.

Hanya kekuasaan Tuhan sajalah yang mampu meluruskan yang bengkok dalam batin kita, membersihkan yang kotor. Setiap kehendak Tuhan jadilah!. KUN FAYA KUN.

Bukan pikiran yang ingin menyerah karena kalau demikian tentu ada pamrih yang tersembunyi di balik penyerahan itu. Nafsu selalu berpamrih untuk memperoleh keuntungan bagi diri sendiri. Tidak ada si aku atau pikiran yang ingin menyerah. Yang ada hanya penyerahan itu saja, titik. Seolah-olah mati di depan Tuhan. Nah kalau nafsu hati dan akal pikiran tidak bekerja lagi, maka segalanya terserah kepada Tuhan. Tuhan Maha Bijaksana, Tuhan Maha Kasih, dan hanya kekuasaa Nya sajalah yang akan mampu mengadakan atau menjadikan yang tidak mungkin bagi pikiran.

Wassalam

Minggu, 09 April 2017

Rasa Syukur atas Segala Karunia


Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Wahai demi dzat yang menggenggam setiap jiwa jiwa seluruh makhluk.
Dzat yang telah mencurahkan segala rahmat dan segenap karunia dari hal hal yang kecil dan tak disadari sampai hal hal yang besar yang tersadari.

Apakah setiap tarikan nafasku dan hembusannya tidak menjadikan diriku bersyukur?. Apakah setiap rasa bahagia dan rasa kasih itu tidak membuatku bersyukur?.
Apakah setiap rasa sedih dan gundah gulana menghilangkan rasa syukurku? padahal dari rasa sedih itu dapat dirasakan nikmatnya rasa bahagia.

Tidakkah Tuhan yang diatas Ar'sy itu menjanjikan kepada setiap hamba manusia bahwa setiap hamba yang mensyukuri atas segala nikmatNya sekecil apapun akan dikaruniakan bertambahnya nikmat oleh Nya.

Allah SWT berfirman:


وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ  لَاَزِيْدَنَّـكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat."
(QS. Ibrahim 14: Ayat 7).

Adapun firman firman Allah yang lain tentang peringatan rasa syukur;


Allah SWT berfirman:

تَبٰـرَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِى السَّمَآءِ بُرُوْجًا وَّجَعَلَ فِيْهَا سِرٰجًا وَّقَمَرًا مُّنِيْرًا
"Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan bintang-bintang dan Dia juga menjadikan padanya matahari dan bulan yang bersinar."
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 61).

وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ اَرَادَ اَنْ يَّذَّكَّرَ  اَوْ اَرَادَ شُكُوْرًا
"Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau yang ingin bersyukur."
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 62).

Allah SWT berfirman:


وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ  لَا تُحْصُوْهَا  ؕ  اِنَّ اللّٰهَ لَـغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang."
(QS. An-Nahl 16: Ayat 18).

Allah SWT berfirman:
وَاَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
"Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur)."
(QS. Ad-Duha 93: Ayat 11).

Allah SWT berfirman:

اِنَّا خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ نُّطْفَةٍ اَمْشَاجٍ ۖ  نَّبْتَلِيْهِ فَجَعَلْنٰهُ  سَمِيْعًۢا بَصِيْرًا

"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat."
(QS. Al-Insan 76: Ayat 2).


اِنَّا هَدَيْنٰهُ السَّبِيْلَ اِمَّا شَاكِرًا وَّاِمَّا  كَفُوْرًا

"Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur."
(QS. Al-Insan 76: Ayat 3).


Allah SWT berfirman:

مَا يَفْعَلُ اللّٰهُ بِعَذَابِكُمْ اِنْ شَكَرْتُمْ وَاٰمَنْتُمْ   ؕ  وَكَانَ اللّٰهُ شَاكِرًا عَلِيْمًا
"Allah tidak akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 147).

Allah SWT berfirman:


يٰٓاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا کُلُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا رَزَقْنٰكُمْ وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ اِنْ کُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah jika kamu hanya menyembah kepada-Nya."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 172).

Allah SWT berfirman:

وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهٗ بِاِذْنِ رَبِّهٖ   ۚ  وَالَّذِيْ خَبُثَ لَا يَخْرُجُ اِلَّا نَكِدًا    ؕ  كَذٰلِكَ نُصَرِّفُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّشْكُرُوْنَ

"Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhan; dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya tumbuh merana. Demikianlah Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang bersyukur."
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 58).

Hadits hadits tentang rasa syukur

”Dua hal apabila dimiliki seorang dia dicatat Allah sebagai orang yang bersyukur dan sabar. Dalam urusan agama ( Ilmu dan Ibadah) dia melihat kepada yang lebih tinggi lalu meniru dan mencontohnya. Dalam urusan dunia dia melihat kepada yang lebih bawah, lalu bersyukur kepada Allah bahwa dia masih diberikan kelebihan.HR.Attirmidzi)

”Yang paling pandai bersyukur kepada Allah adalah orang yang paling pandai bersyukur kepada Manusia”(HR.Athabrani)

Seorang mukmin terbaik itu tentu banyak bersyukur ketika dalam kegembiraan dan banyak bersabar ketika dalam kesedihan (HR Muslim)

Barangsiapa diuji lalu bersabar, dikaruniai lalu bersyukur, didzalimi lalu memaafkan dan mendzalimi lalu beristigfar, maka bagi mereka keselamatan dan hidayah (HR Al Baihaqi)

Alangkah menakjubkan prilaku orang mukmin, jika ia mendapat kebahagiaan, ia bersyukur, jika ditimpa musibah, ia bersabar (HR Ahmad dan Abu Dawud)

Sesungguhnya orang yang lebih banyak bersyukur kepada Allah SWT adalah orang yang lebih banyak bersyukur kepada sesama manusia (HR Tarmidzi)

Orang yang paling pandai bersyukur kepada ALLAH adalah yang paling banyak bersyukur kepada manusia (HR. Athabrani)

Bagaimana mengungkapkan rasa syukur?

Rasa syukur kepada Allah dapat diungkapkan melalui ucapan kalimat hamdallah ataupun melaksanakan apa yang diperintahkan Allah dan beramal sholeh.

Karena segala kalimat kebaikan akan diberikan balasan pahala yang berlipat dari Allah.

“Barangsiapa mengucapkan subhanallah, maka ia mendapatkan sepuluh kebaikan. Orang yang mengucakan laa ilaaha illallaah akan dibalas dua puluh kebaikan dan orang yang membaca alhamdulillah akan memperoleh tiga puluh kebaikan.” (Al Hadist)

Wallahuallam

Senin, 03 April 2017

Karunia Cinta


Assalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. 
Salam cinta dan Kasih semua.. 

Kalau bicara masalah Cinta,  maka bilamana dituliskan akan romantika dan hikmahnya mungkin akan menghabiskan tinta bergalon galon. 

Banyak pujangga dan ahli bahasa menafsirkan arti kata Cinta. Namun ungkapan sebenarnya di setiap orang hanya bisa dirasakan oleh orang itu sendiri dan memaknai sendiri. 

Sebagian orang mungkin tahu cerita cinta romeo dan juliet yang mendunia ataupun cerita lokal, kebanyakan ujungnya berakhir tragis sehingga menjadi kisah cinta yang terkenal. Padahal banyak cerita cinta yang indah dan juga berujung Indah,  seperti halnya kisah cintanya para nabi atau kisah cintanya rosulullah. 
Selain itu ada juga cerita cinta pendiri pendiri bangsa ini yang mengharu biru. Kalau jaman sekarang, ada kisah cintanya pak habibie dan ibu Ainun yang romantis,  yang bahkan telah difilmkan. 

Mari kita bicara cinta..  😍

Apa dasar bersatunya dua insan yang berkasih sayang untuk berikatan adalah karena cinta,  ada yang muncul dari awal bertemu ada pula rasa itu datang belakangan,  mungkin diawalnya ikatan karena terpaksa atau sebab-sebab lain. 

CINTA ada sejak seluruh makhluk diciptakan Tuhan termasuk manusia yaitu sejak jaman nabi Adam dan Hawa sampai berakhirnya dunia nanti.  Allah menciptakan rasa cinta dan berkasih sayang karena bagian dari sunnatullah,  bagian dari sifat Sang Pencipta,  Ar Rahman dan Ar Rahim. 

Tidak hanya manusia bahkan seluruh makhluk yang ada di bumi Allah ciptakan berunsurkan CINTA,  KASIH DAN SAYANG. Kesempurnaan itu Allah tunjukkan pada sifat manusia. 

Bagaimanapun kejamnya seorang manusia,  pasti tidak akan berbuat kejam kepada orang yang dikasihinya. Layaknya seekor induk harimau yang tidak akan memakan anaknya walaupun dalam keadaan kelaparan setengah mati sekalipun. 

Ada yang bilang bilamana terkena penyakit cinta maka itu awal dari penderitaan 😊 BENARKAH?

Teringat satu tokoh kisah negeri tirai bambu yang selalu menderita kutukan jikalau mengalami jatuh cinta,  tokoh itu bilang "Cinta...  Deritanya tiada akhir... " 😀 
Ada juga kesan jatuh cinta pertama pada remaja yang digambarkan pada saat jatuh cinta, sang pencinta bila rindu akan teringat wajah sang kekasih tertempel disemua tempat,  yaitu di dinding, di pintu,  di bantal,  di guling bahkan di piring dan di gelas 😀😀, asal tidak di closet tentunya. 

Barangkali karena kita lebih banyak nonton film atau sinetron ya, sehingga jadi sedikit "lebay" 😀. 
Walaupun memang begitulah cara para sineas untuk membuat beberapa kisah cinta yang terkenal untuk dibuat film atau sinetron dengan cara dibumbui supaya lebih dramatis dan mengharu biru agar menarik penonton.

Ungkapan lainnya teruai dalam ribuan bahkan jutaan syair syair perindu dan bait bait puisi yang tercatat dalam sejarah maupun tidak. Bahkan ada sebagian catatan sejarah terukir,  bahwa karena penyakit cintalah jika satu negeri dapat ditaklukan oleh negeri yang lain. Ya walaupun kita tidak sukai hal seperti itu namun itulah yang terjadi. Bahkan ada kisah mengejar cinta sampai mengarungi luasnya samudera dan tingginya gunung-gunung. Bahkan dengan kekuatan cinta juga dapat menggerakan akselerasi sel sel didalam tubuh sampai tingkat molekular, bilamana dipaparkan akan meluluhlantakkan alam. Namun hal ini tidak dibahas disini, mungkin orang orang tertentu disana yang berada disetiap sudut alam yang mengerti. 

DAHSYAT bukan? Akan Kekuatan cinta. 
Sehingga sebagian dari intinya;

Cinta adalah kehalusan.. 
Cinta adalah kelembutan.. 
Cinta adalah pengorbanan.. 
Cinta adalah semangat hidup.. 
Cinta adalah cemburu.. 
Cinta adalah buta.. 
Cinta adalah kesucian..
Cinta adalah kekuatan.. 
Cinta adalah karunia..
Dan seterusnya 

"SYAIR CINTA,  BERSATU DALAM JIWA"

Ketika dengan kehendak Mu, 

KUN FA YA KUN terciptanya cinta, 

Disaat itu bergetarnya Ars, 

Teciptanya Sang pengabdi Ruh Suci karena cinta, 

Terciptanya lapisan lapisan alam karena cinta, 

Terciptanya cahaya karena cinta, 

Terciptanya gelap karena cinta, 

Terciptanya api karena cinta, 

Terciptanya air karena cinta, 

Terciptanya adam hawa karena cinta, 

Terciptanya aku juga engkau karena cinta, 

Asma suci Ar rahman Ar rahim dari sifat keagungan Mu, 

Meniupkan makna Cinta serta Kasih, 

Kedalam setiap jiwa, 

Sangat lembut bahkan teramat halus namun dapat menggetarkan isi raga dan jiwa, 

Aku ada,  engkau ada,  dia ada. 

Aku sembunyi,  engkau sembunyi,  dia ada. 

Aku hilang,  engkau menghilang,  dia tetap ada. 

Karena dia Kasih, karena dia Cinta. 

Sebab Cinta karena Allah adalah Karunia. 

---------------- - Rahmat Saleh -

Senin, 20 Februari 2017

Mulutmu adalah Harimaumu

Mulutmu adalah harimaumu.. 

Ungkapan yang cukup terkenal, namun pelaksanaannya yg susah. Maknanya adalah untuk selalu menjaga lisan di segala kondisi. 

Kontrol terhadap lisan paling utama adalah disaat kita emosi krn pada saat itu otak dan hati sedang tidak balance (konslet). Secara otomatis lisan terkadang seperti kran air yg rusak dan mental merasa menjadi seorang TARZAN dgn melihat diri AKU (ego) sebagai Raja hutan sedangkan yg lain dianggap katak ijo. 

Untuk menjadi orang sabar bukan berarti menjadi lemah,  melainkan akan menjadikan diri seorang SUPERMAN krn dapat mengalahkan hawa nafsunya.
Sedangkan sabar adalah tidak terbatas, layaknya kasih sayang Allah yg tanpa batas bagi hamba hambanya yg sabar dan berserah diri. 

Awali dgn "di-biasa-kan" menjaga lisan maka akan menjadi "kebiasaan" dan "kebisaan" baik keadaan tenang maupun emosi. 

Terimakasih "IWAN" yg telah membuat aku sadar dan ini mungkin menjadi hikmah berharga juga buat dirimu dan yg lain. 

Jumat, 23 Desember 2016

Kalau Bisa Dibuat Mudah, Mengapa hidup harus dibuat sulit?

Bismillahirrahmannirrahim.


Sesuai pertanyaan judul diatas, terkadang lebih mudah diucapkan akan tetapi begitu sulit untuk dilaksanakan. Dalam kehidupan kalau bisa dibuat mudah mengapa harus dipersulit?.

Bila dikaitkan dengan firman Allah :

"Dan tidaklah kehidupan di dunia ini melainkan senda-gurau dan permainan belaka dan sesungguhnya perumahan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya, jikalau mereka mengetahui.” (Al-Ankabut: 64)

Ya, hidup didunia adalah kehidupan yang sementara, kehidupan fatamorgana dan penuh kepalsuan. Segala tindakan yang kita perbuat belum tentu murni bernilai ibadah, ikhlas karena Allah. Bisa jadi perbuatan baik apapun yang kita lakukan telah terkotori dengan riya atau ingin pamer sehingga tanpa kita sadari menjadi satu hal yang sia-sia dimata Tuhan. Apalagi jika kita melakukan perbuatan buruk yang didasari karena ego dan hawa nafsu yang akan semakin menumpukan amalan dosa didalam jiwa.

Setiap manusia lebih banyak tersibukan oleh hal hal yang sebenarnya suatu bentuk kesia-siaan di mata Allah misalnya bila ada kasus yang sedang "hot" atau "hit" terkadang kita lebih mudah menanggapi atau berkomentar tanpa ada dasar ilmunya sama sekali. Orang bilang "lidah tidak bertulang" padahal ada yg lebih besar antara faedah atau mudharatnya yaitu "opini" atau buah pemikiran yg kita tulis melalui media sosial atau melaui lisan dan lain sebagainya sehingga keadaan yang seharusnya dapat menentramkan malah semakin mengobarkan api karena perang opini. Jadi jelas apakah tidak semakin besar dosa-dosa yang kita tanggung apabila pendapat kita menyesatkan?.

Apa yang kita rasakan bahwa sekarang ini adalah jamannya demokrasi yang dianggap bisa sembarangan orang untuk bebas berpendapat, baik dengan hawa nafsunya atau dengan menggunakan disiplin keilmuannya yang justru ujung ujungnya bila berbenturan malah menimbulkan konflik bahkan sampai ke ranah hukum, kalau begitu dapat kita pertanyakan apa artinya dengan demokrasi bila berbeda pendapatpun malah jadi ribut atau bahkan berurusan dengan aparat hukum.

Berarti khan tidak bebas?.

Padahal seharusnya khan damai-damai saja atau aman-aman saja.

Pada akhirnya semua kejadian diatas dunia ini baik pengalaman diri maupun episode perjalanan orang lain yang seharusnya dapat kita ambil hikmahnya bahwa sebelum kita berbuat, haruslah kita pertimbangkan masak-masak apa konsekuensinya kelak atas perbuatan atau buah pemikiran kita.

Bekali diri dengan pemahaman diri dahulu, bekali diri dengan sepenuhnya dengan "ISI" ilmu sehingga tidak akan diibaratkan seperti " Tong kosong nyaring bunyinya" atau ibarat "Air beriak tanda tak dalam".

Bila diri kita bukan seorang pakar pembuat pesawat jangan coba-coba membuat pesawat sendiri.
Bila diri kita  bukan seorang ahli agama jangan coba coba mengurai masalah agama atau bahkan menghina para alim ulama, yang bilamana kita lihat ke diri kita sendiri dapat dipertanyakan, apakah kita lebih soleh dari diri mereka? Apakah hidup kita setiap waktu mendalami kitab suci atau menghapalnya?.
Apakah ibadah kita telah benar sesuai tuntunan nabi?. Bahkan untuk ibadahpun kita masih "belang bentong", doa-doapun banyak yang tidak hapal apalagi penguasaan tafsir quran dan ribuan hadits yang hapal diluar kepala. Astagfirullah.

Sekarang kembali kita melihat kedalam diri kita sendiri, sejatinya bila hidup ingin tentram dan tidak menambah beban dosa, ya terapkan pertanyaan kedalam diri sendiri "bila hidup bisa dibuat mudah mengapa harus dibuat sulit?."
"Bila bisa berbuat baik, mengapa harus berbuat zhalim?".

Hidup yang sebentar ini bisa kita manfaatkan sebaik baiknya dengan banyak melakukan perbuatan baik walaupun terlihat kecil dan sederhana. Insyaallah.

“Hai sekalian manusia, sesungguhnya janji Allah itu adalah benar. Maka dari itu, janganlah engkau semua tertipu oleh kehidupan dunia ini dan janganlah sekali-kali kepercayaanmu kepada Allah itu tertipu oleh sesuatu yang amat pandai menipu.” (Fathir: 5)

JAGALAH HATI DAN LIDAHMU TERUTAMA HAWA NAFSU PIKIRANMU SENDIRI

Wallahuallam bisshawab

Kamis, 20 Oktober 2016

Cinta : Antara Pilihan dan Kesempatan



Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat, itulah kesempatan. Ketika kita bertemu dengan seseorang yang membuatmu tertarik, itu bukan pilihan, itu kesempatan.


Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan, itupun adalah kesempatan. Bila kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut, Bahkan dengan segala kekurangannya, itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan. Ketika kita memilih bersama dengan seseorang walaupun apapun yang terjadi, itu adalah pilihan. Bahkan ketika kita menyadari bahwa masih banyak orang lain yang lebih menarik, lebih pandai, lebih kaya daripada pasanganmu dan tetap memilih untuk mencintainya, itulah pilihan.

Perasaan cinta, simpatik, tertarik, datang bagai kesempatan pada kita. Tetapi cinta sejati yang abadi adalah pilihan. Pilihan yang kita lakukan. Berbicara tentang pasangan jiwa, ada suatu kutipan yang berbunyi : "Nasib membawa kita bersama, tetapi tetap bergantung pada kita bagaimana membuat semuanya berhasil".

Pasangan jiwa bisa benar-benar ada. Dan bahkan sangat mungkin ada seseorang yang diciptakan hanya untukmu. Tetapi tetap berpulang padamu. Untuk melakukan pilihan apakah engkau ingin Melakukan sesuatu untuk mendapatkannya, atau tidak... Kita mungkin kebetulan bertemu pasangan jiwa kita, Tetapi mencintai dan tetap bersama pasangan jiwa kita adalah pilihan yang harus kita lakukan. Kita ada di dunia bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai TETAPI untuk belajar mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna.

Senin, 05 September 2016

Nobody is Perfect

Anda sedang galau?. Apa yang Anda pikirkan?. Begitu banyak masalah kah saat ini yang sedang Anda hadapi?. Apapun yang sedang Anda rasakan berkenaan dengan merasa "ketidaksempurnaan diri" menghadapi berbagai persoalan hidup misalkan masalah percintaan, masalah rumah tangga, masalah pekerjaan, masalah keuangan dsb.


Pernahkah Anda meresapi dan berintrospeksi diri bahwa berbagai persoalan muncul diawali dari respon pikiran terutama sugesti dari alam bawah sadar kita sendiri. Ketika berkeyakinan Anda akan menghadapi masalah maka pasti akan menemui masalah karena itu yang sedang Anda harapkan. Namun ketika Anda berkeyakinan baik baik saja maka tentunya akan baik baik saja. 

Ketika Anda telah berintrospeksi diri kemudian telah mendapatkan apapun mindset diri sendiri selama ini. Lantas apakah Anda juga mengevaluasi segala bentuk hubungan Anda terhadap orang lain baik ucapan maupun tindakan apakah telah sesuai untuk tidak menciderai hati atau perasaan orang lain?. 

Sebagai gambaran; terkadang kita gampang sekali menilai sesuatu apa yang telah diperbuat atau dihasilkan orang lain dengan penilaian "negatif" misalkan bila seseorang telah menghasilkan suatu karya lalu kita bilang jeleklah.. atau tidak enaklah.. atau salah.. dsb, padahal bisa jadi orang tersebut telah berbuat semaksimal mungkin mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk berbuat yang terbaik menyenangkan orang lain. Ketika Anda telah menilai negatif, apakah tidak hancur perasaannya. Menghancurkan keikhlasannya berubah menjadi "dongkol". Terkadang kita sibuk dengan kesalahan orang lain sebesar semut padahal bisa jadi sisi kebaikannya melebihi sebesar gajah. Seperti salah satu ungkapan yang cukup terkenal.

Misalkan bila keadaannya terbalik, Anda pada posisi dalam penilaian orang lain yang melakukan suatu karya misalkan kebisaan memasak. Mungkin pernah sekali kali Anda melakukan kesalahan, bayangkan bila Anda memasak, setelah sibuk mempersiapkan bahan bahan, kemudian membersihkan, mengolah bumbu bumbu, kemudian memasaknya berhadapan dengan kompor panas dengan wajan dsb. Ketika telah selesai dan disajikan kemudian dinilai oleh orang lain "ga enak banget" dengan sadis di pendengaran Anda. Bila Anda emosi tentunya jangan sampai melakukan "pergerakan" perpindahan makanan tersaji ke tempat "yang tidak semestinya" misalnya muka orang lain. Maaf. 

Ya begitulah terkadang kita mudah sekali menilai tapi tanpa pernah mencoba melalui proses. Ketika telah melalui proses akan terasa sekali tahapan perjalanan suatu proses perjuangan, pengorbanan, proses pencurahan tenaga dan konsentrasi dsb.

Manusia bukanlah seperti robot melainkan terdiri dari darah dan daging dan memiliki perasaan.
Dari sinilah terkadang kita tidak sadar menanamkan suatu "karma" buruk yang tercatat oleh alam yang menjadi simpanan Anda lalu dikemudian hari dikembalikan kedalam diri Anda.

Kesimpulannya adalah bila ingin hidup Anda bahagia maka awali pemikiran Anda dengan pola pikir (mindset) positif. Kemudian perbanyak perbuatan baik untuk mengumpulkan karma baik (pahala di sisi Tuhan) sekecil apapun dan yang terakhir usahakan untuk selalu tersenyum apapun kesulitan yang sedang Anda hadapi.

Hadapilah hidup dengan berbaik sangka, maka Alampun akan berbaik sangka kepada Anda. Bahkan Tuhan pun akan mengikuti apapun persangkaan seorang hamba kepadaNya.

Manusia memang tidak ada yang sempurna, maka akan lebih baik bila Anda telah menyadari diri sendiri dan diaplikasikan untuk menghargai orang lain juga. 

Mohon maaf bila ada kata kata yang kurang berkenan. Semoga bermanfaat.

Pikiran Terbuka

Selama manusia belum dapat bebas dalam arti yang sebenarnya, dia akan selalu merindukan sesuatu yang tidak atau belum ada. Tidaklah mengherankan apabila manusia yang tinggal di tepi laut merindukan keindahan alam pegunungan, sebaliknya mereka yang tinggal di lereng gunung merindukan keindahan pantai lautan. Manusia yang belum bebas selalu menganggap keadaan orang lain lebih menyenangkan daripada keadaan diri sendiri, milik orang lain lebih menarik daripada miliknya sendiri, dan seterusnya.


Pendeknya, yang terbaik dan terindah itu selalu berada di SANA, sedangkan yang berada di SINI selalu membosankan, buruk dan tidak seindah yang di sana.

Hanya kalau orang sudah benar-benar bebas daripada permainan pikiran yang mengejar kesenangan, kalau sudah bebas dari bayangan bayangan kesenangan masa lalu yang menjadi kenangan, bebas dari penilaian, bebas dari perbandingan, maka dia dapat membuka mata dan memandang dengan wajar, memandang dengan waspada dan dengan penuh perhatian, sepenuh perhatiannya, kepada apa adanya di saat ini.

Dan kalau sudah dapat memandang seperti itu, setiap saat terhadap apa yang ada, tanpa dikotori perbandingan dan penilaian, maka batin tidak lagi digoda oleh bayangan-bayangan yang hanya mendatangkan pengejaran kesenangan dan akhirnya menuntun kita kepada kebosanan, kekecewaan dan kesengsaraan.

Hanya kalau mata kita terbuka dan mengamati apa adanya setiap saat, maka akan nampaklah segala yang ada sebenarnya adalah apa adanya itu.

Apabila dalam penglihatan hasil pengamatan ini masih ada penilaian "ini baik dan menyenangkan” atau “Itu buruk dan tidak menyenangkan”, maka pengamatan itu pun akan menjadi kotor dan ternoda karena yang berkata baik atau buruk itu bukan lain adalah pikiran yang selalu menjangkau kesenangan.

Dalam ranah hukum Tuhan adalah lain persoalan karena tanpa ada penilaian makhluk pun, Tuhan tahu apa yang TERBAIK bagi diri manusia sebelum adanya pilihan yang menjebak manusia itu sendiri karena tidak menggunakan nurani dan akal sehatnya.

Wallahualam.

Jumat, 02 September 2016

Pambukaning Pemakluman Diri

Pernahkah Anda terlintas bayangan bila pernah ada suatu bangsa yang memiliki peradaban tinggi, tingkat spiritualitas tinggi, kemudian dibarengi tingkat pemakluman diri terhadap diri dan orang lain juga tinggi. Bangsa ini pernah ada, kemudian "berhijrah" sedangkan peninggalan bangsa ini dihancurkan bangsa lain yang agressor. 

Namun kali ini saya tidak akan mengulas sejarah, saya sekedar membahas peninggalan peradaban bangsa ini mengenai Tingkat pemakluman sepenuhnya untuk menjadi pembelajaran bagi diri saya dan mungkin bagi Anda. Semoga ada manfaatnya.

Seperti apakah pemakluman itu?, gambaran sederhana mungkin bisa dibayangkan dengan suatu contoh kecil; Bila suatu saat Anda sedang bercanda dengan seorang anak kecil, kemudian anak kecil itu tiba tiba tanpa sebab menampar muka Anda, apakah Anda ingin membalasnya?. Tapi tentunya Anda yang sehat pikirannya tidak akan membalas tamparannya bukan?. Inilah makna sederhana dari tindakan pemakluman. 

Lantas bagaimana cara melakukan pemakluman sepenuhnya?. Pertama memperbaiki kualitas spiritualitas Anda, karena ini kuncinya. Dari sini akan bangkit suatu kesadaran diri, kepasrahan diri serta ada keinginan untuk memaafkan kesalahan diri dan orang lain yang berbuat salah kepada Anda baik orang itu mengakui kesalahannya atau pun tidak. Selain itu pula mengetahui batasan norma norma atau kaidah pemakluman yang tidak bertentangan dengan hukum Tuhan.

Yang kedua, selanjutnya memandang suatu hal yang menimpa diri adalah sepenuhnya sudah ter-skenario-kan Tuhan di Lauh mahfudz (catatan perjalanan semua ciptaan Tuhan) atau dengan kata lain menerima takdir Tuhan. Akan tetapi hasilnya adalah dari pilihan kita sendiri.

Ketiga, melakukan upaya berbaik sangka (husnudzon). Seperti contoh diatas Anda ditampar anak kecil, atau contoh lainnya misalnya ketika Anda sedang mengantri di Loket tiket, Anda sudah mengantri ber jam jam tiba tiba ada orang yang datang menerobos antrian, ketika tiba giliran Anda di depan loket dibilang tiketnya sudah habis???.. Apa yang Anda rasakan?. 
Mungkin gelap di mata Anda, namun apakah otak Anda memerintahkan untuk meng-eliminasi orang yang menerobos antrian atau penjual tiketnya?. 

Bila Anda salah menentukan pilihan mungkin Anda telah menjadi seorang robot Terminator. Namun bila Anda dengan terang pikiran dan hati akan mendapatkan kesimpulan bahwa Tuhan memiliki rencana yang lain dengan kejadian tersebut. Inilah yang menjadikan diri Anda seorang fasilitator bagi jiwa Anda sendiri untuk melakukan PEMAKLUMAN DIRI SEPENUHNYA TERHADAP DIRI SENDIRI DAN ORANG LAIN maka Anda telah meraih salah satu kebahagiaan hidup di dunia. Insyaallah.

Banyak lagi contoh contoh lain dalam kehidupan yang dapat Anda sarikan sendiri, misalnya dalam menghadapi cobaan, fitnahan, kesusahan dsb. Kepasrahan total kepada Tuhan adalah bentuk pemakluman Diri yang paling sempurna. Berat dilakukan namun bila telah meraihnya akan bahagia luar biasa.

Semoga kita semua bisa beristiqomah dijalan yang benar dan sepenuhnya berusaha memperbaiki diri salah satunya rendah hati dan berbaik sangka dan pemakluman diri terhadap diri dan orang lain. Insyaallah. Amien.

Setitik Tentang Jati Diri

Assalamualaikum.

Kata jati diri barangkali pernah kita dengar atau bahkan mungkin diantara Anda ada yang sedang menggali, apa dan bagaimana, seperti apa dsb. Jati diri pada dasarnya berkaitan dengan "anggapan seseorang terhadap dirinya sendiri". Dalam bahasa psikologi jati diri dapat dipadankan dengan "self-esteem". Bagaimana seseorang memandang dirinya menentukan sikapnya terhadap hidup. 


Ada orang yang beranggapan dirinya adalah orang yang tidak berharga, padahal orang lain melihat dia sebagai orang yang pandai dan rajin. Karena menganggap dirinya tidak berharga, maka dia tidak mampu menggunakan kemampuannya dalam pekerjaan maupun dalam keluarga.

Bangsa Jepang mempunyai jati diri yang kuat. Bangsa ini melihat dirinya sebagai bangsa yang unggul dan terhormat. Rasa unggul dan terhormat ini menjadikan bangsa Jepang sebagai pekerja keras, tekun dan tahan menderita. Selain itu bangsa Jepang pantang tercemar kehormatannya. Kalau harus menanggung rasa tidak hormat (malu maka lebih baik mati (harakiri). Sebaliknya, mungkin terlalu lama dijajah, bangsa Indonesia mempunyai jati diri yang lemah.

Pertanyaan yang paling mendasar lantas bagaimana dengan jati diri kita sendiri? Tentu tidak mudah melakukannya. Waktu yang paling tepat untuk meneliti jati diri adalah sewaktu kita mengalami nasib yang tidak menyenangkan, misalnya sedang sakit, sedang kena PHK atau mengalami kebangkrutan usaha. Nasib diri kita pada dasarnya bersumber dari jati diri atau self-esteem, yaitu bagaimana kita melihat atau menganggap diri kita. Keadaan sakit juga merupakan akibat dari self-esteem.

Jati diri terbentuk oleh tiga kebutuhan hidup manusia, yaitu kekuasaan, rasa tanggung jawab dan cinta kasih. Manusia membutuhkan kekuasaan dalam bentuk pengaruh terhadap orang lain, penerimaan dan perhatian dari orang lain. Kegagalan atau kekecewaan tidak medapatkan kekuasaan tersebut dapat menyebabkan orang menganggap dirinya tidak berguna atau self-esteem yang rendah. Hal yang sama juga terjadi pada kegagalan mendapatkan kasih sayang dan tanggung jawab.

Sebagai contoh, pada waktu kita mengalami musibah, termasuk sakit, mulailah menelusuri berbagai kejadian atau pengalaman di waktu lalu yang menyebabkan kekecewaan, kesedihan atau kemarahan dalam hal kekuasaan, kasih sayang dan tanggung jawab dalam hidup itu sendiri. Kalau sudah menemukan pengalaman dan kejadian tersebut maka sadarkan diri sendiri bahwa pengalaman dan kejadian tersebut sudah lewat dan seharusnya tidak ada urusan atau kaitan lagi dengan kehidupan kita sekarang. Sekarang kita sudah menduduki kursi direktur dalam perusahaan besar, sehingga kita menjadi perhatian, mendapat kasih sayang dan juga kekuasaan.

Apakah semudah itu mengubah jati diri? Tidak sama sekali. Memang mudah dikatakan tetapi sangat sulit untuk dilaksakan. Tetapi tidak ada salahnya untuk mencoba.

Selanjutnya bertanyalah pada diri sendiri, apa tujuan hidup kita. Bagi orang yang religius dapat bertanya, untuk tujuan apa Tuhan menciptakan saya dan menugaskan saya hidup di bumi ini? Para pewaskita mengatakan bahwa tujuan hidup adalah untuk memberi, untuk melayani orang lain. Dalam Islam dikatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah menjadi Khalifah Allah di Bumi. Misi Kholifah adalah untuk memakmurkan bumi dan membahagiakan sesamanya.

Jika sekarang Anda sudah tahu tujuan hidup yang paling hakiki, yaitu melayani. Pertanyaannya, apakah selama ini kita sudah bersikap melayani? Kalau belum tidak heran kita gagal menjadi pejabat, menjadi pengusaha atau menjadi tetangga yang baik. Kita tentu menyangkal bahwa hidup kita sejauh ini belum atau tidak melayani. Kalau begitu bertanyalah pada diri sendiri, apakah kita bahagia, tidak tegang atau stress?

Kalau kita merasa tidak bahagia (ada saja yang kurang atau ada saja yang salah), itu tandanya kita tidak bahagia atau mengalami stress. Rasa tidak bahagia dan stress adalah sumber kegagalan dan penyebab sakit. Tidak melayani sama artinya dengan egois. Kita jadi pejabat tidak melayani rakyat tetapi sibuk dengan kekuasaan. Menjadi pengusaha tidak melayani konsumen tetapi sibuk meningkatkan keuntungan sendiri.

Dari ragam dialog diri diatas, yang perlu kita sadari adalah bahwa kita memiliki nilai atau harga diri sama dengan manusia lain karena semua manusia diciptakan Tuhan dengan misi yang sama. Oleh karena itu tidak perlu merasa kurang atau merasa lebih dari orang lain. Katakan pada diri sendiri bahwa kita adalah manusia "pemberi" yang hebat. Itulah jati diri kita yang hakiki.

Selasa, 30 Agustus 2016

Antara Sakti dan Sakit

Assalamualaikum wr.wb

Di zaman dikatakan milenium ini, yang sesungguhnya telah beberapa kali terjadi peradaban "lebih milenium" berganti kemudian tenggelam dan muncul lagi berulang ulang. Namun pada hakikatnya kehidupan manusia adalah sama, sebagai pemimpin diatas bumi. Maknanya adalah untuk mengolah dan memanfaatkan semua sumber daya alam di bumi untuk kebaikan seluruh umat manusia.


Sedikit sekali catatan sejarah mengenai peradaban masa lalu yang hebat yang di ketahui oleh khalayak sekarang ini bahkan mungkin telah dihancurkan atau dihilangkan. Beberapa barangkali ada dari nubuwah atau cerita dari kitab suci mengenai keadaan peradaban masa lalu disertai misi suci para utusan (nabi / rosul) ditengah umat mereka. Sehingga apa yang dikatakan mukjizat atau karomah orang orang suci tergambarkan diluar batas tanggap otak kita sekarang ini. Apa sebab?.  Ujung ujungnya karena sebab kekuasaan Tuhan.

Di zaman sekarang apakah ada orang yang memiliki karomah atau kemampuan yang mukjijat?.  Tentu ada, hanya saja orang orang seperti itu tidak pernah menunjukan diri di muka umum. Kalaupun ada barangkali adalah penampilan para pesulap dan ahli mentalist seperti muncul di media media. Kesimpulannya yang membedakannya adalah kemampuannya diperoleh dari mana. Cara berlatih, Instan atau memang pemberian Tuhan atau dari cara setan.

Bila diantara Anda ada yang memiliki kelebihan dari Tuhan, maka syukurilah agar tidak menjadikan Anda mengaku "sakti" sehingga malah menjadi kutukan dari Tuhan. Bila dilatih maka pergunakan untuk kebaikan semua orang. Adapun bila Anda memperolehnya dari setan, maka segeralah bertobat karena tidak akan ada manfaatnya bagi Anda dan akan menjadi sengsara di akhirat kelak. Wallahualam

Bagi saya dan diantara Anda yang berada pada garis normal normal aja, mungkin menjadi orang "SAKTI" adalah angan angan / khayalan akan tetapi bila sewaktu waktu menderita "SAKIT" itu adalah kenyataan. :)

Kelelahan fisik, mental dan pikiran akan menyebabkan jatuhnya diri menjadi sakit. Bisa sakit fisik atau bisa pula fisikis. Sakit fisik bisa berusaha dengan istirahat yang cukup, minum vitamin dan obat, akan tetapi bila sakit karena pikiran barangkali akan lama prosesnya, hanya satu jalan yang bisa membantu yaitu dengan berserah diri kepada Tuhan. Tiada daya dan upaya selain karena kekuasaan Tuhan.

Lantas kalau sakit hati masuk kemana ya?. kalau secara fisik namanya sakit liver :), namun secara fisikis tetap termasuk karena pikiran juga yang mengendap. Berikhtiar dan berdoa adalah upaya diri sebelum berpasrah diri kepada Tuhan.

Mengharapkan kesaktian yang bila Tuhan tidak berikan malah membuat diri berputus asa, padahal sesungguhnya kesaktian yang sejati adalah pengendalian diri dari hawa nafsu. Namun bila suatu saat Tuhan berikan hidayah dan karomah karena saking sayangnya Tuhan kepada kita dengan memberi amanah, maka syukurilah dan pergunakan untuk kebaikan ke semua orang.
Wallahualam. 

Semoga Anda Sehat Semuanya.
Misi selanjutnya...

Jumat, 26 Agustus 2016

Setitik Pemakluman Diri

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Salam sejahtera untuk para sahabat semua.

Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, sampai sampai ditengah kesibukan yang fana tidak sempat meluangkan waktu menuangkan pemikiran di blog ini, mudah-mudahan yang terutama adalah jangan sampai melalaikan mendekatkan diri kepada Nya. Insyaallah.

Ya, barangkali seperti itulah hidup di dunia, baik saya ataupun Anda para sahabat secara tidak sadar sebenarnya sama sama telah tertipu diri dalam buaian angan angan dunia. Apa yang kita kejar, apa yang kita raih sebenarnya semua adalah ilusi dunia, mengejar hakikat kebahagiaan diri namun sesungguhnya malah terbelenggu dalam kehampaan diri. Yang ada adalah lelah hati, lelah fisik dan lelah pikiran. Walaupun misalnya Anda sekarang telah meraih kesuksesan diri mendapatkan apa yang dulu Anda cita citakan, lantas apakah Anda puas?. Saya yakin belum tentu. Bisa jadi Anda malah berencana untuk berangan angan meraih cita cita yg lebih tinggi atau malah Anda saat ini sedang berada pada titik kejenuhan karena Anda sudah bosan untuk segera "rehat diri".

Apa sih yang menyebabkan kehampaan diri tersebut diatas?. Dalam hal ini adalah adanya ketidakseimbangan antara pemenuhan ego diri (hawa nafsu) dengan kebutuhan jiwa / ruhani akan spiritualitas mengenal diri dan Sang Pencipta.

Sebagian ada yang bilang;  khan sudah cukup dengan melakukan ritual ritual ibadah? atau dengan melakukan amal amal kebaikan ataupun menjadi orang baik itu sendiri dsb.

Bisa jadi benar, tapi sisi lain bisa juga belum cukup, apa sebab?. Apakah disaat kita melakukan ritual ritual ibadah atau amal kebaikan tersebut telah sepenuh hati dilakukan dengan keikhlasan atau tidak?. Adakah didalam hati terbersit adanya berharap pamrih atau malah menjadi riya, ujub dsb. wallahualam.

Mengenal diri dan mengenal siapa Tuhan atau siapa Allah bagi setiap orang beriman semua agama diawali dengan penerapan akan arti SEPENUHNYA PEMAKLUMAN DIRI.

Gambaran sederhananya malah seperti berkesan koboi. Nah lho???. Orang yang bersikap " AKU BERBUAT mau ikhlas atau tidak, bodo amat" maksudnya berawal dari niat karena Allah, setelah itu lupakan.. inilah ORANG BAHAGIA, mungkin Tuhan pun tertawa. Apa sebab?. karena selama ini apa yang disebut pahala dan dosa tidaklah nampak langsung terasa (perkara ghaib). Lain soal apabila misalnya setelah Anda melakukan dosa tiba tiba merasakan benjut benjut dan sebagainya atau sesuatu yang disebut pahala tiba tiba Anda merasakan "semriwing" seperti terkena hembusan angin sepoi sepoi sejuk :).. Benar kan?. Walaupun begitu terkadang ada sebab dan akibat secara tidak langsung apa yang kita lakukan hari ini akan menuai hasil nya di suatu saat selama di dunia. Namun tetap perkara dosa dan pahala adalah ghaib, hanya Sang Pencipta Yang Maha Tahu yang mengetahui. Sama halnya dengan perkara timbangan amal dan dosa di akhirat kelak. Wallahualam.

Terakhir Anda jangan salah kaprah bila menganalogikan terbalik; "SAYA MENERIMANYA (sesuatu) walaupun orang itu ikhlas atau tidak ikhlas MEMBERIKANNYA, bodo amat". ini sih orang tersesat dan rakus he he he..

Seperti apa sih PEMAKLUMAN DIRI ITU?. 
Akan kita bahas di lain waktu.

Salam

Selamat malam